Usaha Kecil Terpinggirkan di Tengah Peluncuran Program Makanan Bergizi Gratis

Hermawati Setyorinny, Ketua Umum Asosiasi Industri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Indonesia Akumandiri, mengkritik lemahnya komunikasi pemerintah terkait keterlibatan UMKM dalam program Makanan Bergizi Gratis (MBG).

Hermawati mengungkapkan bahwa pelaku usaha kecil, yang sebelumnya dijanjikan untuk dilibatkan, justru baru mengetahui program ini melalui pemberitaan di media.

“Sering kali, masyarakat hanya tahu keterlibatan UMKM dari media. Namun, dari informasi yang saya peroleh, UMKM sama sekali belum mendapatkan kejelasan. Prosedur pelaksanaan pun masih samar, dan UMKM tidak tahu apakah mereka benar-benar akan dilibatkan,” ujar Hermawati pada Kamis.

Ia menyampaikan kekecewaannya terhadap minimnya komitmen pemerintah untuk melibatkan UMKM dalam program yang dijadwalkan mulai pada 6 Januari.

“Jika program ini dimulai minggu depan, tetapi informasi masih belum jelas, bagaimana mungkin uji coba dapat berjalan efektif? Vendor mana yang akan digunakan? Saat Wakil Presiden berkunjung ke sekolah-sekolah, mungkin saja vendor telah ditentukan,” tambahnya.

Meski Badan Gizi Nasional, yang bertanggung jawab atas program ini, telah meluncurkan situs *mitra.bgn.id* untuk UMKM yang ingin berpartisipasi, Hermawati mengaku belum menerima informasi apa pun terkait inisiatif tersebut.

“Saya sama sekali tidak tahu tentang situs *mitra.bgn.id*. Ini adalah masalah klasik dalam program pemerintah di Indonesia—kurangnya sosialisasi. Biasanya, hanya mereka yang berada di lingkaran dalam pemerintahan yang mendapatkan informasi,” jelasnya.

Selain itu, ia juga menyuarakan kekhawatiran terkait pendanaan program makanan bergizi gratis ini. Pemerintah menyebutkan bahwa setiap porsi makanan akan dianggarkan sebesar Rp 10.000, namun Hermawati khawatir produk impor dengan harga lebih murah akan lebih diprioritaskan.

“Saya berharap pemerintah benar-benar bermitra dengan UMKM, baik itu petani, nelayan, maupun produsen makanan ringan. Dengan anggaran Rp 10.000 per porsi, tantangannya cukup besar, karena untuk beras saja, mereka mungkin akan mencari opsi impor. Hal yang sama berlaku untuk buah-buahan, di mana petani lokal sulit bersaing dengan produk impor yang lebih murah,” pungkasnya.

Presiden Prabowo Subianto memperkenalkan program makanan gratis ini sebagai salah satu janji kampanye presidennya, dengan tujuan menekan angka stunting pada anak-anak Indonesia. Menurut Prabowo, program ini akan menyediakan makanan siang bergizi untuk anak-anak sekolah di seluruh Indonesia tanpa biaya.

Program MBG secara resmi akan diluncurkan pada 6 Januari 2025, dengan menyasar 932 lokasi pada tahap awal. Pada April, program ini akan diperluas ke 2.000 lokasi, dan ditargetkan menjangkau 5.000 lokasi pada pertengahan 2025. Dengan anggaran tahun pertama sebesar Rp 71 triliun (US$ 4,39 miliar), program ini akan menyediakan makanan bagi 15 juta penerima manfaat, termasuk anak-anak dari pendidikan usia dini hingga sekolah menengah atas, serta ibu hamil dan menyusui.

Pemerintah menargetkan perluasan program ini hingga 80 juta penerima manfaat pada tahun 2029, dengan perkiraan biaya mencapai Rp 400 triliun selama beberapa tahun ke depan.

Sumber: jakartaglobe.id