Fundamental Ekonomi Indonesia Rapuh?

Awal tahun 2019, posisi rupiah masih belum stabil. Meski pada Jumat (4/1) nilai tukar rupiah terhadap dollar mengalami sedikit penguatan. Sebelumnya rupiah mencapai Rp. 14.474 per dollar AS, sampai hari ini mengalami sedikit penguatan, meski tidak begitu signifikan Rp. 14.350 per dollar AS.

Menurut Pengamat Ekonomi Ichsanuddin Noorsy mengatakan, terjadinya penguatan terhadap rupiah saat ini lebih disebabkan oleh situasi luar yang sedang dalam posisi kacau. Ia memberi istilah perang dingin yang terjadi antara China yang dihajar di Australia, New Zeland, Kanada dan saat ini berhadapan dengan Amerika Serikat.

Atas situasi tersebut, pemerintah Indonesia sendiri masih tergantung pada situasi ekternal tersebut. Sementara pemerintah sendiri menurutnya tidak memiliki strategi yang matang untuk mengatasi kekuatan luar untuk menurunkan atau menaikkan rupiah.

“Itu artinya sudah terjadi perang dingin. Jadi, dari data saya tahun 1964 sampai Desember 2018 sesungguhnya kecenderungannya walaupun terjadi penguatan tidak akan pernah sungguh-sungguh menguat pada fundamental perekonomian yang kokoh. Tapi justru menguat pada fundamental perekonomian yang rapuh,” kata Ichsanuddin kepada Fajar Indonesia Network (FIN), Jumat (4/1)

Dijelaskan, fundamental perekonomian yang kokoh secara nasional adalah, pertama, pemerintah tidak memiliki sumberdaya yang dikelola sendiri. Ia mencontohkan masalah ekspor, dimana Indonesia saat ini merupakan pengekspor bahan mentah atau ekstraksi.

“Kedua, industrialisasi. Di Indonesia terjadi de-industrialisasi. Ketiga, pasar kita dikuasai asing. Mulai pasar pangan, energy, pasar keuangan. Sedangkan pasar frekuensi kita adalah konsumen,” tambahnya.

Olehnya itu, untuk menstabilkan kembali perekonomian Indonesia, perlu adanya perbaikan fundamental atau system ekonomi Indonesia yang rapuh. Terlebih lagi dengan kondisi utang luar negeri yang semakin meningkat.

Solusinya perbaiki dulu fundamentalnya yang rapuh. Bukan soal berapa nilainya tapi perbaiki sistemnya, ucapnya.

Sementara itu, Ketua Umum Assosiasi Industri Usaha Mikro Kecil dan Menengah Indonesia (AKUMANDIRI), Hermawati Setyorinny saat dikonfirmasi Fajar Indonesia Network (FIN) menegaskan naik turunnya rupiah tidak terlalu berdampak bagi para pelaku UKM. Justru sebaliknya. Pelaku UKM merasa diuntungkan jika posisi dollar menguat.

“Untuk eksportir ada dampaknya, tapi kita untung. Karena harganya kita kalikan dengan kurs dollar. Ini terjadi zaman Soeharto saat krisis. Saat itu rupiah terhadap dollar dari 2.500 jadi 15.000. Pelaku UKM banyak meraup untung. Kecuali bahan baku yang menggunakan bahan impor pasti harganya akan naik sedikit. Karena pasokan di UKM tidak semua bahan bakunya import, kebanyakan bahan baku yang digunakan UKM lokal,” ujar Hermawati.

Sebagai salah satu pelaku usaha juga, Hermaawti juga merasakan dampak dari perang dagang yang terjadi antara China dan Amerika Serikat. Namun, ia menilai, hal itu bisa teratasi jika dalam setiap transaksi di menggunakan kurs masing-masing negara, bukan berpatokan pada kurs dollar.

“Kesalahannya setiap transaksi selalu menggunakan kurs dollar yang menjadi patokan. Pemerintah perlu mengeluarkan kebijakan dengan menggalang seluruh negara-negara ASEAN untuk bertransaksi menggunakan mata uang masing-masing. Sehingga dollar tidak terlalu mendominasi,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *